Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Jangan Bangga Punya Kas Masjid Miliaran! Bayu Firdaus: Uang Jamaah Harus Segera Jadi Manfaat

Suaramu, Mojokerto — Masjid tidak boleh hanya menjadi bangunan yang ramai ketika waktu salat tiba. Di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi digital, masjid dituntut untuk mampu hadir lebih luas, menjangkau lebih banyak jamaah, serta mengelola potensi umat secara lebih profesional. Karena itu, sudah saatnya pengurus takmir berani keluar dari pola pengelolaan lama dan mulai membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk ikut menjadi penggerak masjid.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Klinik Kemasjidan 5.0 yang digelar di Masjid Al-Furqon Mlirip, Jetis, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Ketika Konten Masjid Bisa Menghasilkan Miliaran Rupiah” tersebut menghadirkan Bayu Firdaus sebagai narasumber.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB dan diikuti oleh para pengurus takmir masjid dari berbagai wilayah. Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten dan Kota Mojokerto, tetapi juga hadir dari Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan. Kehadiran peserta lintas daerah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masjid untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mencari pola pengelolaan yang lebih inovatif semakin dirasakan oleh para pengurus masjid.

Seminar tersebut menjadi ruang diskusi bagi para pengurus masjid untuk membahas tantangan pengelolaan masjid di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin dekat dengan dunia digital.

Kegiatan ini berangkat dari kegelisahan sejumlah pengurus takmir terhadap kondisi infak masjid yang cenderung mengalami penurunan, sementara kebutuhan pembiayaan berbagai program dan kegiatan kemasjidan terus berjalan. Kondisi tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan bagaimana masjid dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial sebagai instrumen dakwah sekaligus membuka potensi sumber pendanaan baru.

Dalam pemaparannya, Bayu Firdaus mengajak para pengurus takmir untuk tidak lagi sekadar berpikir mengenai banyaknya kegiatan, tetapi mulai mengukur dampak dari setiap program yang dijalankan masjid.

Menurut Bayu, banyak pengurus masjid yang sibuk menyusun berbagai program, tetapi terkadang lupa bahwa masjid memiliki fungsi yang sangat luas. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang sosial, pendidikan, pemberdayaan, pelayanan umat, hingga pusat pergerakan masyarakat.

“Masjid yang hidup bukanlah masjid yang sekadar megah bangunannya atau bagus ornamen-ornamennya. Masjid yang hidup adalah ketika ruh jamaah dan pengurusnya juga hidup melalui kegiatan-kegiatan yang memberikan dampak,” ujar Bayu dalam pemaparannya.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah masjid semestinya tidak hanya dilihat dari besarnya bangunan ataupun tingginya saldo kas. Menurutnya, dana yang dihimpun dari jamaah dan para donatur pada hakikatnya merupakan amanah yang harus segera dikonversikan menjadi kemanfaatan.

“Kalau pengurus takmir takut kas masjid habis, berarti ada sesuatu yang harus dibenahi. Kas masjid itu berasal dari jamaah dan donatur. Mereka berharap dana tersebut segera disalurkan menjadi kebaikan agar pahalanya terus mengalir. Jangan sampai justru kita bangga karena memiliki saldo kas ratusan juta bahkan miliaran rupiah,” ungkapnya.

Bayu yang juga dikenal sebagai Key Opinion Leader Media Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran kemudian membagikan pengalaman pengelolaan Masjid Ar-Royyan. Ia menyebut, selama 18 bulan berjalan, pengurus masjid tersebut tidak pernah menjadikan besarnya saldo kas sebagai ukuran keberhasilan.

Bahkan, menurut Bayu, para pengurus justru merasa bangga ketika saldo kas masjid berada di angka nol karena dana yang masuk segera dikonversikan menjadi berbagai program dakwah dan pelayanan jamaah.

Dana dari para donatur di Masjid Ar-Royyan, lanjut Bayu, digunakan untuk berbagai kegiatan berbasis kemasjidan. Di antaranya penyediaan makanan gratis setiap hari bagi jamaah, fasilitas bagi musafir berupa kasur dan bantal, sabun mandi bagi para tamu yang menginap, hingga penyediaan kopi, teh, dan air dingin selama 24 jam. Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran juga menyediakan fasilitas WiFi tanpa password yang dapat diakses oleh seluruh jamaah sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan yang nyaman dan terbuka bagi masyarakat.

1002343915

“Prinsipnya bukan bagaimana masjid memiliki uang sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana uang yang dititipkan kepada masjid dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya,” jelas Bayu.

Antusiasme juga terlihat dari peserta kegiatan. Salah satunya Khoirul Anam dari PDM Mojokerto Kota yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyambut positif gagasan pemanfaatan ruang digital sebagai salah satu instrumen pengembangan dakwah dan penghimpunan infak masjid.

Ke depan, Khoirul Anam bersama PDM Mojokerto menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi masjid-masjid di wilayah Mojokerto agar mendapatkan pelatihan mengenai strategi memanfaatkan ruang digital untuk mengembangkan potensi infak dan dakwah.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al-Furqon sekaligus pelaksana kegiatan, Febri Andi Amrullah, mengatakan bahwa Bayu Firdaus sengaja dihadirkan sebagai narasumber karena rekam jejaknya dalam mengembangkan media sosial Masjid Ar-Royyan sebagai salah satu instrumen dakwah.

Pengelolaan media sosial Masjid Ar-Royyan juga telah membuktikan bahwa keterlibatan anak muda dalam manajemen masjid dapat memberikan dampak yang nyata. Khususnya dalam pengelolaan media sosial, keterlibatan generasi muda membuat berbagai konten Masjid Ar-Royyan mampu menjangkau masyarakat secara luas, bahkan tidak jarang masuk dalam rekomendasi atau FYP di media sosial dan menjadi viral. Perkembangan tersebut turut membawa Masjid Ar-Royyan meraih penghargaan di tingkat kabupaten maupun tingkat nasional.

Bayu Firdaus sendiri merupakan pengurus Forum Dai Digital LDK PP Muhammadiyah yang aktif dalam berbagai forum kemasjidan. Dalam berbagai kesempatan, ia konsisten mendorong para pengurus takmir untuk naik kelas dalam pengelolaan masjid, salah satunya dengan memahami dan memanfaatkan perkembangan digitalisasi.

Bagi Bayu, transformasi digital masjid bukan semata-mata tentang memiliki akun media sosial atau membuat konten setiap hari. Lebih jauh dari itu, digitalisasi harus menjadi bagian dari perubahan cara berpikir pengurus dalam mengelola masjid agar lebih terbuka, profesional, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Di Masjid Al Manar PCM Sepanjang Ustadz Kusnadi Sampaikan Revolusi Takmir Masjid

Baca Juga: Ustadz Kusnadi Sampaikan “Revolusi Takmir Masjid”

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan masjid. Menurutnya, anak-anak muda jangan hanya ditempatkan sebagai objek dakwah yang datang untuk mengikuti kegiatan masjid, tetapi harus diberi kepercayaan untuk menjadi bagian dari subjek yang ikut menentukan arah dan mengelola berbagai program kemasjidan.

“Jangan hanya mengajak anak muda datang ke masjid. Berikan mereka ruang untuk mengelola masjid. Berikan mereka kepercayaan, tanggung jawab, dan kesempatan untuk berkarya,” pesan Bayu.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika perilaku generasi muda saat ini sangat dekat dengan ekosistem digital. Kemampuan mereka dalam membuat konten, mengelola media sosial, membangun komunitas, hingga memahami tren komunikasi digital dapat menjadi aset besar bagi masjid apabila dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, tantangan masjid hari ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan jamaah agar tetap datang ke masjid, tetapi bagaimana masjid mampu hadir di tengah kehidupan masyarakat, termasuk di ruang digital tempat jutaan orang menghabiskan waktunya setiap hari.

Masjid yang tidak mau beradaptasi akan semakin jauh dari generasi zamannya. Sebaliknya, masjid yang berani membuka pintu bagi anak muda, memberikan ruang bagi kreativitas, dan mulai mengelola dakwah secara profesional akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pusat peradaban yang relevan dengan zamannya.

Sudah saatnya para pengurus takmir tidak hanya bertanya, “Berapa saldo kas masjid kita?” tetapi mulai bertanya, “Seberapa besar dampak masjid kita bagi masyarakat?” Sebab masjid masa depan bukan hanya masjid yang memiliki bangunan megah, melainkan masjid yang mampu menghidupkan jamaah, menggerakkan anak muda, memanfaatkan teknologi, dan menjadikan setiap rupiah amanah umat sebagai energi untuk melahirkan sebanyak-banyaknya kemanfaatan.

*) Reporter : Darwis

Editor : Hamka

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *